Diare Pada Anak

PENYAKIT DIARE PADA ANAK, BAYI / BALITA


Sebelum membahas tentang Diare ada anak, bayi atau balita, akan dijelaskan dulu apa itu penyakit diare. Secara umum Penyakit Diare (Diarrheal disease) adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja / kotoran, seperti melembek bahkan mencair, serta semakin seringnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya (tiga kali atau lebih dalam sehari). Ada juga yang berpendapat bahwa Penyakit diare adalah buang air besar dimana tinja atau kotoran yang dikeluarkan kandungan air tinjanya lebih banyak dari biasanya, kadang berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat).

Para orang tua biasanya tahu kalau anaknya terserang Diare, biasanya jika melihat tinja nya encer dan berair. Di indonesia kematian yang diakibatkan penyakit diare pada anak masih tergolong sangat tinggi. Banyak Faktor yang sangat berpengaruh yang bisa memancing terjadinya diare pada balita yaitu seperti masih kurangnya kesadaran kesehatan akan lingkungan (penggunaan sarana air bersih, MCK keluarga, pembuangan sampah, pembuangan air limbah) dan tentunya perilaku hidup sehat dalam keluarga.

Penyebab Diare Pada Anak


Biasanya diare pada anak terjadi pada anak/bayi berumur 7 sampai 24 bulan. Hal ini terjadi karena pada umur 7 bulan bayi sudah mulai diberikan makanan tambahan MP-ASI, seiring diberikannya makanan tambahan maka kuman juga bereksiko masuk bersama makanan yang diberikan, sehingga reksiko terserang diare cukup besar, ditambah konsumsi ASI yang terus berkurang dari sang bunda maka berkurang juga antibodi alami tersebut masuk ke tubuh bayi. Pada umur 2 tahun antibodi tubuh bayi sudah mulai terbentuk sendiri dan terus berkembang semakin sempurna, sehingga serangan virus pun akan terus berkurang.

Setelah kita mengetahui hal apa saja yang dapat memicu terjadinya penyakit diare ini, maka sekarang kita mencoba mengenal penyebab seorang manusia bisa terkena penyakit diare. Menurut penelitian, secara klinis penyebab diare dapat dikelompokan sebagai berikut :

  1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas.
  2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus.
  3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis.
  4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodefisiensi, kesulitan makan, dll.

Sedangkan berikut ini beberapa prilaku  yang bisa dikategorikan Penyebab Diare Pada Anak, berikut penjelasannya :

  1. Tidak memberikan ASI secara penuh pada 6 bulan pertama kelahiran bayi, karena pada ASI terkandung zat protektif Laktobasilus Bifidus, zat ini mampu mengubah laktose menjadi asam laktat dan asetat. Kedua zat asam ini yang menjadikan saluran pencernaan bayi menjadi lebih asam, sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri E.Coli yang bisa menyebabkan diare pada anak / bayi.
  2. Penggunaan botol susu yang tidak bersih pada saat pembersihannya, karena botol susu memang cukup sulit untuk dibersihkan, sehingga jika tidak bersih benih kuman dapat berkembang biak. Biasakan merendam dalam air panas/hangat peralatan yang akan digunakan untuk bayi.
  3. Makanan matang yang disimpan terlalu lama dalam suhu ruang, sehingga kuman dapat berkembang biak. Begitu juga air minum yang penyimpanannya tidak tertutup.
  4. Tidak mencuci tangan dengan sabun sampai bersih setelah BAB, sehingga kuman masih banyak menempel, ini berbahaya karena kuman bisa menmpel pada peralatan makan anak pada saat pemberian makan (Disuapi).

Diare Akut Pada Anak


Diare akut pada anak adalah diare yang terjadi kurang dari 14 hari, dengan frekuensi 12 hari lebih tanpa henti. Penyebab diare akut pada anak ini pada umumnya hampir sama dengan yang disebutkan diatas. yaitu bisa lewat melalui makanan yang terlalu dini diberikan pada anak/bayi berumur dibawah 6 bulan, penghentian pemberian ASi yang terlalu dini, faktor lingkungan, peralatan makan/minum bayi yang tidak steril dan masih dll.

Penanganan Diare Pada Anak


Menurut KEMENKES RI tahun 2011 cara penanganan diare pada anak adalah dengan cara LINTAS DIARE (lima langkah tuntaskan diare), yang telah didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Berikut caranya:

  1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah. langkah awal yang bisa dilakukan Bunda untuk mengatasi diare ini adalah mengatasi dehidrasi karena habisnya cairan. Dengan cara pemberian Oralit osmolalitas rendah. Oralit ini dapat mengatasi rasa mual dan muntah, namun jika tidak ada Bunda dapat memberikan air matang atau air sayur.
  2. Pemberian Zink selama 10 hari berturut-turut. Mineral Zinc merupakan salah satu mikronutrien/zat gizi yang penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Mineral Zinc ini mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan dari penyakit diare, mengurangi frekuensi BAB, serta dapat mengurangi kambuhnya penyakit ini 3 bulan kedepan.
  3. Pemberian ASI dan Makanan terus menerus. Untuk bayi yang dalam masa menyusui teruslah diberikan ASI, karena ASI mempunyai antibodi alami untuk mencegah diare.
  4. Antibiotik Selektif.  Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan darah, dan tidak bisa sembarangan diberikan pada bayi, hubungi dokter anak untuk perawatan terbaik.
  5. Pemberian Nasihat pada Pengasuh. Berilah nasehat kepada siapa saja yang mengasuh anak/bayi anda tentang masalah kesehatannya, masalah pemberian obat obatan dan masalah kapan harus membawa buah hati anda ke dokter disaat anda sedang tidak ada dirumah.

Related Posts:

This entry was posted in Kesehatan Bayi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.